Masih banyak anak-anak di dunia, di negara ini saja, yang selama bertahun-tahun harus tetap menutup mulutnya.
Iya, ada anak yang harus tumbuh sampai dewasa dengan teriakan-teriakan orangtuanya, tapi hanya harus diam, menutup mulutnya berusaha tidak campur tapi dia ketakutan. Menutupi masalahnya juga dari orang lain, tidak tau siapa yang bisa menolongnya karena dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Dia juga iri setiap kali melihat anak yang bercanda ria dengan orangtuanya.
Anak itu mengekspresikannya dengan menangis saja, satu-satunya cara meluapkan amarahnya, bertahun-tahun. Lalu berdoa pada Tuhan agar keluarganya jadi keluarga normal, tapi entah kapan doanya dijawab Tuhan.
Dan saat ia sudah pada masa terburuknya, tekanan padanya sudah tidak terbendung, dia lakukan hal yang bisa mencelakai dirinya sendiri, barulah dua orang itu menengok padanya, bertanya ada apa lalu dengan perasaan yang sudah hancur si anak menjawab sejujur-jujurnya kalau dia sudah lelah menghadapi keributan-keributan sejak kecil. Lalu apa jawab mereka? Salah satunya justru mengatakan bahwa anak ini hanya menambah-nambah pikirannya, mulai berani melawan orangtua. Parahnya lagi, ia menyuruhnya berhenti menangis tapi caranya salah, sungguh salah, dia dibentak, diancam jika melakukan hal yang aneh-aneh justru akan ditambah, tidak segan untuk main tangan. Serius, apa anak itu akan tenang dengan cara begitu? Kenapa? Apa didengar oleh orangtua itu bukan hak anak? Anak tidak boleh menyuarakan pendapatnya? Dan apa dia orangtua itu tidak merasa bersalah atau setidaknya, kasihan atas apa yang dirasakan anaknya?
Keinginannya untuk memiliki keluarga normal semakin tertutup kemungkinannya.
Salah satu yang lainnya memang berdiri untuk anak itu, topik pertengkaran pasangan yang sudah menikah lebih dari dua puluh tahun itupun berubah, membahas si anak, walaupun dibela anak itu tetap merasa bersalah, karenanya orangtuanya memiliki masalah baru. Dirinya.
Tapi dia tau itu bukan sepenuhnya salahnya. Usianya sudah hampir delapan belas tahun. Dia menuntut hak nya sebagai anak untuk mendapatkan kasih sayang orangtuanya dengan cara yang layak, menuntut hak nya memiliki keluarga yang harmonis. Walaupun akhirnya suaranya menjadi bumerang untuknya sendiri, setidaknya harapan muncul di hati anak itu, bahwa orangtuanya akan semakin mengerti apa yang dia rasakan. Entah kapan. Dia terus berharap.
Untuk kalian, kalian yang terlahir di keluarga yang bahagia, banyak-banyaklah bersyukur pada Tuhan, masih banyak anak yang tidak seberuntung kalian, mereka punya orangtua secara fisik, tapi dibatin mereka, mereka kehilangan figur orangtua untuk dicontoh.
Untuk kalian yang peduli akan hak anak, teruskan. Siapapun mereka, bantu mereka. Mereka butuh setidaknya satu orang untuk membuat mereka bisa melewati masa-masa sulit. Satu senyum, satu tawa saja, sudah cukup untuk mereka.
Dan kalian, kalian yang berada dalam posisi yang sama. Kalian tidak sendiri, kita punya hak untuk bicara, kita punya hak untuk bahagia. Bangkit, bangkit! Kita tidak boleh menangis lagi apalagi berpikir pendek untuk mengakhiri hidup dan lain sebagainya. We deserve better than that. We do.
CONVERSATION
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
About me
BAMF. boom.
Popular Posts
-
No, gue gak akan bikin review apa gimana , gak berbakat dalam hal itu. Gue cuma bakal mengeluarkan pikiran-pikiran random gue. [kalo terli...
-
Kalo kriteria fisik cowok impian lo begini ; -tinggi tegap -hidung ke- mancung -an -rambut tebel -brewok Iya, kalo begitu, menurut pe...
-
Jum'at, 17 Maret 2017. Hari ini kepala gue dipenuhi pikiran random soal masalah sekitar, mungkin bisa kita renungi bareng. Atau baca...
-
Masih banyak anak-anak di dunia, di negara ini saja, yang selama bertahun-tahun harus tetap menutup mulutnya. Iya, ada anak yang harus tum...
-
Dalam hitungan hari, kita akan pisah sama 2016. Tahun kampret. Ekspektasi sama realitanya tuh, beyond bumi dan langit. Dalam hitunga...
-
Sabtu, 11 Februari 2017. Sebelumnya, gue mau confession dulu. Ini adalah pendapat gue yang bisa dianggap sebagai kritik, tapi gue gak a...
-
Exactly. Cewek emang bego banget kalo udah soal cowok. Pernah denger atau baca kutipan, "cewek pake hati, cowok pakai logika...
-
Sabtu, 4 Maret 2017. Pagi-pagi, sejuk habis hujan. Gue Nina, menuju 18 tahun dalam 3 bulan 10 hari. Sedang uring-uringan di tempat ...
0 komentar:
Posting Komentar