#RandomHariIni : Opini Si Non-Intelektual Untuk Para Intelektual Di Hadapannya.

Sabtu, 11 Februari 2017.


Sebelumnya, gue mau confession dulu. Ini adalah pendapat gue yang bisa dianggap sebagai kritik, tapi gue gak ada maksud buat bikin siapapun tersinggung apalagi sakit hati. Kenapa kalo mau kritik gue gak ngomong langsung, tapi malah nulis di blog minim pengunjung?  Gue pun sebenarnya ragu buat nulis ini, karena gue orangnya sering overthinking, gue cetek, gue lemah, gue takut. Dengan gue mengeluarkan pendapat begini, hal-hal negatif bisa aja terjadi ke gue tapi karena gue percaya sama undang-undang yang di dalamnya ada hak kebebasan berpendapat, gue jadi dapat dorongan tersendiri buat ngeluarin semuanya, karena gue muak dan gue harap, mau sesedikit apapun yang baca, kita satu pikiran, ini bisa jadi pelajaran buat kita. Jadi, inilah gue dan opini gue, opini si non-intelektual untuk para intelektual di hadapan.

Hari ini ada pesta demokrasi tingkat sekolah, pemilihan ketua OSIS. Dan gue semalam sebelumnya udah yakin buat golput, tapi pas nonton debat final cagub DKI, rasanya gue harus pertimbangkan lagi, like, selain ngerasa ini ajang buat belajar jadi warga negara yang baik, ini tahun terakhir gue di SMA, tahun terakhir gue bisa milih ketua OSIS walaupun cuma beberapa bulan ngerasa dibawah kepemimpinan mereka. Jadi gue tercerahkan dan ngerasa perlu buat memilih, menggunakan hak pilih gue dengan sebaik-baiknya.

Agenda tahunan, sebelum pemilihan ada orasi lapangan, dimana para kandidat ngepromosiin diri mereka lewat visi misi dan program kerja yang selama ini dimata gue cuma ajang hipokrisi anak-anak muda. Tapi tahun ini cukup menarik perhatian gue, karena selama ini gue yang anti sama kandidat-kandidat begini justru dukung penuh mereka, baik atau buruk, semua kandidat intinya, gue ada di pihak mereka.

Sebelumnya gue jelasin dulu sedikit gimana teknisnya orasi lapangan, dilaksanain di depan satu sekolah, para kandidat maju, nyampaikan visi misi, program kerja, ngejawab pertanyaan dari moderator, bakal ada sanggahan dan pertanyaan dari siswa-siswi lain, terkait visi misi, program kerja atau jawaban mereka atas pertanyaan yang sebelumnya diajukan oleh si moderator. Oke itu biasa, tapi apa yang sebenernya bikin gue jadi muak?

Pasukan penyanggah.

Siapa pasukan penyanggah ini? Ya tukang sanggah semua kandidat, tapi dari sekitar delapan ratus anak disekolah, cuma tiga-empat yang jadi pasukan penyanggah ini, yang berulang kali naik turun mimbar buat nanya dan nyanggah. Gue bukan termasuk dari mereka tentu, gue cuma rakyat jelata, kaum pinggiran, nyaris anti-sosial dan non-intelektual pastinya, dan pasukan penyanggah ini adalah para pejabat siswa, segudang prestasi, kebanggaan sekolah.

Dan gue sama sekali gak bangga sama mereka. Gue iri? Enggak, emang dari diri gue pun gak ada yang bisa dibangga-banggain sama sekali. Yang bikin gue gak bangga dan muak sama mereka adalah cara mereka menyanggah para kandidat. Gue akui, mereka emang kritis banget dalam mengkritik dan menyanggah. Di mata orang-orang mereka mungkin keren, tegas dan sebagainya tapi dimata gue, mereka lebih kayak bikin mental para kandidat jatuh, mungkin tujuan mereka emang buat membangun mental para kandidat tapi gue rasa caranya kurang pas. Dari nada bicara dan gesture mereka kelihatan kalo mereka meremehkan, pas turun mimbar dan ngumpul sama pasukannya mereka ketawa-ketawa gak berdosa, dari situ gue udah gak ngerti sama jalan pikiran mereka. Gue juga mulai mengingat gimana saat para pejabat ahli ini ada di posisi para kandidat hari ini, sejenis emang, mereka di kritik habis-habisan. Beneran ya, gue sebenernya gak mau mikir begini tapi kalo dilihat emang semacam pelampiasan. Tapi apa harus begini setiap tahunnya? Gak mau berubah? Bangsa gak akan lebih baik dengan cara kayak gini. Apa semua kaum intelektual perlu begini biar level kecerdasan mereka diakui? Kalo iya, gue bener-bener gak habis pikir.

Satu momen yang jelas masih terekam dikepala gue sekarang adalah saat satu penyanggah ini bilang kalo selebaran visi misi dan program kerja salah satu kandidat yang dibagikan cuma dijadikan pesawat-pesawatan sama siswa-siswi, dan gak perlu waktu lama, pesawat-pesawat kertas pada berterbangan, jadi sampah yang berhamburan di lapangan. Segitu gak berharganya kah usaha kandidat itu? Gue juga bertanya-tanya dalam hati sama para pembuat pesawat itu, apakah ada sesuatu yang membanggakan dari gak menghargai orang begitu? Kalo kita tanya mereka satu-satu mereka mau dihargai apa enggak pasti mereka jawab iya, tapi kalo kita lihat kelakuan mereka, apa mereka pantas dihargai? Dan kalo mereka ada di posisi kandidat itu emang mereka sanggup? Cobalah ngelihat sesuatu itu dari berbagai sudut pandang, kalo cuma ngelihat sudut pandang kontra ya begitu jadinya, tapi coba lihat dari keduanya, terus dipertimbangkan, pasti bisa ngambil kesimpulan yang baik 'kan? Tanpa bertindak konyol yang disangka keren padahal dangkal.

Ada juga, orang lagi orasi yang cowok-cowok pada main bola, tahun kemaren juga begitu. Semacam tantangan buat kandidat, tapi gue rasa caranya gak etis sama sekali. Basi juga. Mungkin di mata sebagian orang lucu, keren karena rebel, tapi sekali lagi, di mata rakyat jelata kayak gue itu dangkal.

Lalu yang menggelitik, salah satu pertanyaan dari siswa, kali ini dia bukan dari pasukan penyanggah, dia menanyakan sama salah satu kandidat perempuan, pakai al-Qur'an dan hadist, tentang perempuan yang jadi pemimpin, inti yang gue tangkap adalah tentang perempuan yang gak seharusnya jadi pemimpin. Oke, ini emang masalah yang sensitif  buat dibahas sekarang, tapi bisa gak kita pisahkan dulu masalah agama dan masalah begini? Gue muslim, sekolah gue emang sekolah Islam dan bukannya gue mau ngelawan al-Qur'an, hukum agama, tapi tolonglah, ini tuh kesannya malah diskrimasi gender. Serius, ini udah 2017, abad 21, masih ada aja yang begini? Buat apa kita peringati Hari Kartini setiap tahunnya kalau masih ada yang begini? Ini kalo kedengaran sama feminis mampus pasti. Gue aja rasanya sebel dengernya.

Terus, kita kembali lagi sama pasukan penyanggah ya, gue gak terlalu nangkap (semoga gue gak salah, kalo salah gue minta maaf banget) tapi ini masalah musyawarah, dan dia mempermasalahkan tentang kemungkinan kandidat ketua  OSIS yang gak ada ide dan minta sama anggotanya, tegas dia sangkal kalau ketua OSIS harusnya punya ide. Menurut gue ini gak make sense, lo gak bisa mengekspektasikan kesempurnaan dari seseorang, dan buat apa ada organisasi itu ada anggota kalo cuma ketua yang harus selalu punya ide. Sumpah, gue gak ngerti lagi. Tapi gue setuju sama yang dibilang sama kandidat yang ditanya soal ini, ini adalah tempat dimana dia belajar jadi pemimpin, because simply, it's not like lo kepilih terus lo plop jadi pemipin yang sempurna. Pemimpin berpengalaman aja bisa ngelakuin kesalahan gimana mereka yang baru belajar.

Dan akhirnya apa gue golput? Enggak, gue rasa dengan hak pilih yang gue punya, gue bisa ngasih kesempatan buat orang belajar, walaupun gue sendiri gak pernah ngerasain yang namanya jadi pengurus OSIS tapi gue rasa mereka bakal belajar banyak dari hal ini. Dan gue pilih yang menurut hati gue meyakinkan dan semoga dia emang seperti apa yang terlihat sekarang.

Buat kaum intelektual,siapapun itu. Kalo lo emang cerdas, manfaatkan sebaik mungkin akal yang dikasih sama Tuhan. Dan oh, hargai orang lain, mau sepinter apa kalo sifat lo begitu, apalagi gak berusaha menghargai orang lain, seburuk apapun orang itu, nilai lo tetap nol.

Sekali lagi, gue gak bermaksud buat bikin siapapun sakit hati. Kalo lo baca post ini, gak perlu lo masukin ke hati, abaikan, tapi kalo mau dijadiin bahan buat ngomongin gue ya silahkan sih, bebas, karena ini cuma opini orang awam. remaja non-intelektual yang jelas gak mengerti secara mendetail masalah beginian.

Jadi, santai aja.

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top